Yogyakarta, 11 Februari 2026 – Workshop Maggot Black Soldier Fly (BSF) yang diselenggarakan di Pusat Inovasi Agroteknologi UGM pada 11 Februari 2026 menjadi wadah pembelajaran aplikatif bagi tendik dari Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Kegiatan ini dirancang untuk mengintegrasikan pengetahuan teoritis dengan praktik lapangan, sekaligus memperkenalkan inovasi pengelolaan limbah organik berbasis budidaya maggot. Antusiasme peserta terlihat sejak awal kegiatan, mencerminkan tingginya minat terhadap solusi berkelanjutan di bidang perikanan dan lingkungan.
Sesi pembuka diisi dengan paparan materi mengenai Black Soldier Fly (BSF) oleh Prayogo Purbo Asmoro, S.P., M.Si., dosen Fakultas Pertanian UGM. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan siklus hidup BSF, potensi pemanfaatannya, hingga perannya dalam mengolah limbah organik menjadi produk bernilai ekonomi. Peserta tidak hanya menyimak dengan serius, tetapi juga aktif berdiskusi, menunjukkan proses pembelajaran yang interaktif. Kegiatan ini selaras dengan SDG 4: Quality Education, yang mendorong pendidikan berkualitas berbasis praktik dan inovasi.
Setelah sesi kelas, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke farm maggot PIAT UGM yang berada di kawasan Rumah Inovasi Daur Ulang (RINDU). Peserta melihat langsung proses budidaya maggot di dalam biopond, mulai dari panen maggot, pengambilan telur untuk pembesaran, hingga proses perkawinan lalat BSF di insektarium. Pengalaman ini memberikan pemahaman menyeluruh mengenai sistem produksi maggot sebagai solusi pengelolaan limbah organik. Praktik ini erat kaitannya dengan SDG 12: Responsible Consumption and Production, yang menekankan efisiensi sumber daya dan pengurangan limbah.
Kegiatan kemudian ditutup dengan kunjungan ke bidang perikanan, di mana peserta mempelajari pemanfaatan maggot sebagai pakan alternatif bagi ikan. Inovasi ini tidak hanya menekan biaya produksi, tetapi juga mendukung praktik perikanan yang lebih berkelanjutan. Dengan memanfaatkan limbah menjadi sumber pakan bernilai tinggi, kegiatan ini turut berkontribusi pada SDG 14: Life Below Water dan SDG 2: Zero Hunger, melalui peningkatan ketahanan pangan dan pengelolaan sumber daya perairan yang lebih efisien.

