Yogyakarta, 20 Juli 2026 — Sebanyak 22 mahasiswa yang berasal dari 17 negara berbeda berkunjung dan mendalami tata kelola sampah perkotaan di Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM. Kunjungan ini merupakan bagian dari gelaran Workshop and Fieldtrip on Municipal Waste Management: Empowering Communities Through Sustainable Waste Solutions. Program berskala internasional ini merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian UGM dan Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPKM) UGM, berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) dari lingkup pemerintah hingga institusi akademik.
Mengusung tema besar “Empowering Communities Through Sustainable Waste Solutions”, program ini dirancang untuk menghadirkan kombinasi komprehensif antara sesi workshop dan observasi lapangan. Tujuannya adalah untuk memperkaya pemahaman peserta mengenai sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan, sekaligus melihat langsung implementasinya dalam upaya pemberdayaan masyarakat. Melalui forum ini, para peserta tidak sekadar memperoleh pengetahuan teknis, tetapi juga mendapatkan pengalaman berharga berupa pertukaran budaya, kolaborasi lintas negara, diskusi intensif dengan para pakar, serta peninjauan praktik keberlanjutan yang relevan dengan krisis iklim global.
Pada kesempatan kali ini, PIAT UGM dipercaya penuh untuk mendiseminasikan berbagai teknologi tepat guna di bidang pengelolaan sampah yang potensial untuk diadopsi dan diterapkan oleh para peserta di negara asal mereka. Kegiatan diawali dengan kelas pengantar yang dibawakan secara interaktif oleh Pipit Noviyani, S.Si., selaku Koordinator Bidang Pengelolaan Sampah PIAT UGM. Setelah sesi berbagi pandangan dan perbandingan masalah persampahan di masing-masing negara, peserta kemudian diajak turun langsung ke lapangan untuk melihat sistem tata kelola sampah kampus yang dipusatkan di fasilitas Rumah Inovasi Daur Ulang (RINDU) PIAT UGM.
Berbagai teknologi dan sentra pengelolaan limbah yang ditinjau mencakup fasilitas rumah maggot (biokonversi Black Soldier Fly), unit pemilahan dan pencacahan sampah plastik (cacah pilah), unit pengomposan sampah organik (daun dan sisa makanan), hingga unit edukasi pengelolaan sampah mandiri skala rumah tangga. Melalui peninjauan langsung ini, diskusi aktif terjalin sangat intens. Beragam ide aplikatif bermunculan terkait metode pengelolaan sampah mana yang dinilai paling adaptif untuk diterapkan di kota asal para peserta. Kehadiran delegasi dari belasan negara ini menjadikan suasana kunjungan sangat hidup dan istimewa.
“Setelah mengunjungi RINDU, saya menyadari bahwa pengelolaan sampah yang dilakukan dengan sistematis ternyata sangat menarik. Saya sangat antusias dan kini menjadi jauh lebih paham mengenai detail proses pengolahannya dari awal hingga akhir. Saya benar-benar senang dan bersyukur bisa mengikuti kegiatan ini,” ungkap Yon, salah satu perwakilan peserta asal Myanmar.
Gelaran Workshop and Fieldtrip internasional ini merupakan manifestasi nyata dari komitmen UGM dalam mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Isu tata kelola sampah perkotaan yang diangkat sangat krusial dalam mendukung SDG 11: Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan. Edukasi terkait pemilahan, pengomposan, dan biokonversi berkontribusi langsung pada SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab dengan mereduksi volume limbah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Upaya ini sekaligus menjadi aksi nyata mitigasi emisi gas metana dari tumpukan sampah, selaras dengan SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim. Selain itu, bertemunya mahasiswa dari 17 negara untuk bertukar pikiran dan teknologi menjadi wujud implementasi SDG 4: Pendidikan Berkualitas dan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, demi membangun sinergi global dalam menyelesaikan krisis lingkungan.
Melalui program ini, PIAT UGM berharap fasilitas Rumah Inovasi Daur Ulang (RINDU) tidak sekadar menjadi tempat pengelolaan limbah kampus, melainkan mampu terus bertransformasi menjadi laboratorium hidup bagi masyarakat dunia. Berbekal pengalaman, wawasan, dan teknologi yang telah dipelajari di Yogyakarta, para mahasiswa lintas negara ini diharapkan dapat kembali ke negaranya masing-masing sebagai agen perubahan (agent of change) yang siap menginisiasi solusi cerdas persampahan dan memberdayakan komunitas lokal mereka.
Penulis: Rakanda Paritusta | Editor & Foto: Tim Humas & Media PIAT UGM

