• Tentang UGM
  • Portal Akademika
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
  • Surel
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA
PUSAT INOVASI AGROTEKNOLOGI
  • TENTANG PIAT
    • Profil Pusat Inovasi Agroteknologi
    • Visi, Misi, dan Budaya Pusat Inovasi Agroteknologi
    • STRUKTUR
  • LAYANAN
    • MAGANG/PKL
    • PRAKTIKUM
    • PENELITIAN
    • KUNJUNGAN
    • PELATIHAN
  • FASILITAS
    • ASRAMA RUSUN
    • EDUGARDEN
    • EMBUNG
    • MEETING ROOM
    • CAFE PAWON SEMAR
  • BIDANG UNGGULAN
    • Seed & Rice Production
    • Waste Management
    • Sustainable Fisheries
    • Smart Livestock
    • Smart Farming
    • Genetic Bank
    • Plantation and Bio Pharmacy
    • Agroprocessing Unit
    • Agroedutainment
    • Nutrifresh
      • Laman Belanja Nutrifresh
  • PRODUK UNGGULAN
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita PIAT UGM
  • PIAT UGM Menerima Kunjungan dari 120 ASN Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi

PIAT UGM Menerima Kunjungan dari 120 ASN Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi

  • Berita PIAT UGM, Headline, Rilis Berita
  • 9 Juni 2022, 08.01
  • Oleh: piat
  • 0

Rabu (8/6) Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) Universitas Gadjah Mada menerima kunjungan dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. Agenda ini ditujukan untuk pembekalan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang akan ditempatkan di daerah-daerah potensial yang dapat dikembangkan di Indonesia.

Sebanyak 100 ASN yang dibagi menjadi dua tim mengikuti pemberian materi di kelas dan kunjungan lapangan secara bergantian. Materi disampaikan oleh Dr. Ir. Taryono, M.Sc., selaku Kepala PIAT UGM dan Ir. Chandra Wahyu Purnomo, S.T, M.Eng. D.Eng, IPM selaku sekretaris PIAT UGM.

[sangar-slider id=5775]

Materi sesi pertama diberikan oleh Dr. Taryono membahas mengenai inovasi teknologi pertanian di daerah transmigrasi. Dr. Taryono mengungkapkan bahwa aktivitas transmigrasi yang sudah ada sejak tahun 1900-an berbeda dengan abad 21 di mana daerah transmigrasi diharapkan menjadi pusat ekonomi baru.

“Kalau dulu transmigrasi berbekal benih, cangkul, dan sabit, sekarang harus dibekali dengan teknologi dan pengelolaan yang baik. Yang lebih penting lagi adalah bagaimana transmigran tidak kembali pulang, maka kesejahteraan mereka harus dipikirkan,” tuturnya.

Selain itu, pentingnya ekonomi sirkular di mana daerah transmigrasi harus ramah lingkungan dan berkelanjutan, maka di sini menjadi penting slogan “pertanian terpadu cerdas berkelanjutan”. Artinya, petani harus cerdas memilih jenis tanaman dan komoditas karena setiap lahan itu berbeda-beda jenis tanah dan iklimnya.

“Bagaimana kita memanfaatkan sumber daya alam yang ada di lokasi tersebut semaksimal mungkin, kemudian pemasaran harus dikembangkan secepatnya. Inilah bedanya linear ekonomi dan sirkular ekonomi,” ucap Taryono.

Sementara itu, tujuan pembangunan berkelanjutan terdiri dari tiga pilar, yakni lingkungan, sosial, dan ekonomi. “Namun, biasanya kita terlalu mementingkan ekonomi, padahal ekonomi dan sosial akan terdampak jika aktivitas manusia mengakibatkan kerusakan lingkungan,” ungkap Chandra.

Kemudian, agenda dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke bidang pertanian tanaman pangan dan hortikultura, bidang perikanan dan tata kelola air, Rumah Inovasi Daur Ulang (RINDU), serta bidang peternakan dan kesehatan hewan.

[sangar-slider id=5758]

 

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Universitas Gadjah Mada

Pusat Inovasi Agroteknologi
Universitas Gadjah Mada
Kalitirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta 55573, Indonesia
piat@ugm.ac.id
@piat.ugm
+62 (274) 497717
+62 (274) 497717
+62 (274) 6491406  (VOIP)

 

 

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY