Yogyakarta, 14 Februari 2026 — Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM berkolaborasi dengan Inti Camp menggelar kegiatan edukasi bertajuk “Jelajah Alam Gamagiri”. Agenda ini dirancang untuk mengajak masyarakat mengenal lebih dekat bentang alam di kawasan Kebun Produksi Gamagiri UGM melalui konsep fun trekking yang informatif dan interaktif.
Kegiatan dimulai dengan sesi pemanasan sebelum peserta menyusuri rute produksi karet. Di sana, para peserta mendapatkan pengalaman langsung menyadap getah karet didampingi oleh staf ahli PIAT Kebun Mangunan. Perjalanan berlanjut ke area produksi tanaman 3S (Sawo, Sirsak, dan Srikaya). Tak hanya mengenal karakteristik ketiga tanaman tersebut, peserta juga diperbolehkan memetik dan mencicipi buah yang sudah matang langsung dari pohonnya.
Petualangan semakin menarik saat peserta diajak mengeksplorasi keindahan tersembunyi di Kebun Gamagiri, yakni Air Terjun Kedung Cici. Di sela-sela menikmati pesona alam, peserta diberikan edukasi mengenai pentingnya pelestarian air dan pemulihan lahan kritis yang telah dilakukan secara konsisten oleh PIAT UGM. Setelah itu, rombongan mengunjungi area produksi kayu putih dan mendapatkan kenang-kenangan berupa minyak kayu putih murni hasil penyulingan laboratorium PIAT UGM. Peserta juga berkesempatan meninjau Stasiun Pemantauan Sesar Opak, sebuah fasilitas strategis hasil kolaborasi UGM dengan BMKG.
Sebagai penutup, peserta mengikuti sesi mindfulness yang dipandu oleh tim Inti Camp untuk menyelaraskan pikiran dengan alam. Kegiatan diakhiri dengan santap siang bersama yang mengusung konsep kearifan lokal. Hidangan tradisional yang disiapkan oleh warga sekitar memberikan pengalaman budaya yang autentik, mempererat hubungan antara akademisi, masyarakat, dan lingkungan.
Kegiatan Jelajah Alam Gamagiri ini merupakan manifestasi nyata dari dukungan UGM terhadap beberapa poin Sustainable Development Goals (SDGs). Praktik pengelolaan lahan kritis dan pelestarian air di kawasan ini selaras dengan SDG 15: Life on Land dalam menjaga ekosistem daratan tetap produktif dan berkelanjutan. Selain itu, edukasi lapangan mengenai agroteknologi dan mitigasi bencana bersama BMKG mendukung SDG 4: Quality Education dengan memberikan akses pengetahuan praktis bagi masyarakat. Melalui pelibatan warga lokal dalam penyediaan hidangan tradisional, kegiatan ini juga memperkuat SDG 17: Partnerships for the Goals, membuktikan bahwa kolaborasi antara institusi pendidikan, komunitas, dan masyarakat dapat menciptakan dampak ekonomi sekaligus melestarikan kearifan lokal.
Acara ini membuktikan bahwa edukasi lingkungan tidak harus selalu kaku di dalam ruangan. Melalui langkah kaki menyusuri rimbunnya Kebun Gamagiri dan hangatnya hidangan kearifan lokal, para peserta pulang tidak hanya membawa ilmu baru tentang pengelolaan lahan, tetapi juga rasa syukur yang mendalam atas kekayaan alam yang ada. Jelajah Alam Gamagiri menjadi pengingat bahwa menjaga bumi adalah tugas kolektif yang bisa dimulai dengan mengenali dan mencintai alam sekitar kita

